PEGANTAR METODOLOGI STUDI ISLAM (MSI)
A. Pendahuluan
Islam merupakan ajaran yang memberikan petunjuk hidup manusia sepanjang masa dan di mana pun. Fungsi ajaran Islam tersebut menempatkan Islam sebagai agama yang relevan bagi siapa pun, di mana pun berada dan kapan saja. Pertanyaan yang timbul adalah; bagaimana ajaran Islam bersumber pada wahyu al-Qur’an yang diturunkan 15 abad yang lalu tetap relevan dengan kehidupan manusia yang bersifat dinamis? Wahyu adalah ajaran Islam yang normatif yang bersifat mutlak dan abadi, sedang kehidupan manusia bersifat relatif dan terikat dengan waktu dan lokasi. Untuk dapat mendekatkan kehidupan manusia yang relatif kepada wahyu yang mutlak diperlukan penelitian dan pengkajian terhadap Islam. penelitian Islam tidak berarti mempertanyakan keberadaan wahyu sebagai sumber ajaran Islam, melainkan mengkaji pemahaman terhadap Islam dan fenomena yang terjadi dari agama Islam itu yang senantiasa berkembang.
Islam sebagai ajaran (wahyu) memang bersifat normatif yang memiliki kebenaran universal dan mutlak, namun ketika ajaran-ajaran Islam yang normatif tersebut berinteraksi dengan konteks zaman (sejarah) dan pemahaman manusia, maka Islam memuat aspek yang bersifat relatif dan temporal. Karena itu, terjadi perbedaan antara ajaran yang terkandung di dalam teks (nash) dengan pemahaman manusia terhadap nash maupun manifestasinya dalam konteks historis, atau antara das sein dan das sollen. Perbedaan ini dapat dilihat dalam berbagai bentuk, baik dari konteks zaman (waktu) maupun makan (tempat).
B. Batasan dan Objek Kajian
Pengertian Metodologi Studi Islam
• Apakah Metodologi Studi Islam itu?
• Metodologi : Ilmu metode, cara kerja, ilmu cara-cara dan langkah-langkah yang tepat untuk menganalisa (Islam)
Studi artinya pembelajaran atau pengkajian terhadap sesuatu.
Islam, apakah definisi Islam itu?
• Batasan Metodologi Studi Islam: Islam sebagai Agama dan Islam sebagai Ilmu
1. Hal-hal yang terkait dengan ajaran Islam
2. Hal-hal yang terkait dengan praktek masyarakat Islam
3. Hal-hal yange terkait dengan hasil pemikiran umat Islam
4. Hal-hal yang terkait dengan metode penelitian-penelitian ajaran Islam dan praktik masyarakat Islam
Objek Kajian
Metodologi Studi Islam dapat meliputi:
1. Norma-norma yang terdapat dalam sumber ajaran Islam. Hasil dari pengkajian terhadap norma ini menghasilkan pengetahuan agama. Materinya diajarkan di Madrasah Diniyah.
2. Pengetahuan yang dirumuskan dari ajaran Islam yang dipraktekkan dalam sejarah kehidupan manusia. Pengkajian terhadap hal ini menghasilkan studi Islam. Materinya diajarakan di MI sampai IAIN.
3. Pengetahuan yang dihasilkan oleh umat Islam dan dibangun atas arahan nilai-nilai Islam. Hasilnya disebut dengan sains Islam. Materinya diajarkan di universitas Islam
Islam Normatif dan Islam Historis
• NORMATIF pengkajiannya menghasilkan High Tradition atau Great Tradition yang mengutamakan keseragaman pemahaman. Ajaran ini disebut dengan ortodoksi. Ortodoksi adalah pemahaman terhadap ajaran Islam yang seharusnya (das solen).
• HISTORIS pengkajiannya menghasilkan Low Tradition atau Little Tradition
yang menampakkan keragaman dalam praktek keberagamaan. Ajaran ini disebut dengan ortopraksi, yaitu melihat aplikasi ajaran Islam dalam realitas hidup masyarakat (das sains).
C. METODE MEMAHAMI ISLAM
Menurut Ali Syari’ati:
1. Metode Komparasi: yaitu membandingkan agama Islam dengan agama lain, antara ajaran dalam al-Qur’an dengan ajaran di kitab suci lain, antara kepribadian Rasul dengan tokoh besar yang lain. Tujuannya untuk menemukan perbedaan yang menjadi cirri khas ajaran Islam.
2. Pendekatan aliran, yaitu sesuai dengan bidang masing-masing. Islam mengandung berbagai aspek, sehingga dapat dipahami dari berbagai perspektif.
Menurut Nasaruddin Razak:
1. Islam harus dipelajari dari sumebrnya yang asli, yaitu al-Qur’an dan Hadis.
2. Islam harus dipelajari secara integral, yaitu melihat Islam sebagai satu kesatuan yang bulat, tidak parsial.
3. Islam harus dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh ulam-ulama besar islam.
4. Islam harus dipelajari dari ketentuan normative teologisnya baru kemudian dihubungkan dengan kenyataan histories empirisnya dia masyarakat.
Menurut Mukti Ali:
1. Metode Sintesis, yaitu mempelajari Islam dengan menggabungkan antara pemahaman Islam dengan pendekatan atau metode ilmiah.
2. Metode Tipologi, yaitu memahami Islam berdasarkan topic atau tema yang sejenis seperti aspek ketuhanan, kenabian, kitab suci, dan lain-lain.
D. Signifikansi Studi Islam
a. Islam sebagai agama yang secara historis telah membuktikan sebagai agama mendunia dan mampu menembus seluruh hati umat manusia. Sehingga Islam menjadi agama yang fungsional yaitu Islam dijadikan sebagai sumber pemecahan masalah bagi masyarakat dunia.
b. Matakuliah Metodologi Studi Islam ini dimaksudkan untuk mengantarkan para mahasiswa mampu memahami Islam bukan secara normatif semata, melainkan menelaah Islam aktual secara kritis, obyektif, dan sistematis. Kerangka berpikir tersebut pada gilirannya mengantarkan pada pemahaman Islam yang universal, yang inklusif, dan Islam yang rahmatan li al-‘alamin, sehingga mahasiswa memiliki aqidah yang kuat dan ibadah yang baik, dan sekaligus memiliki pemahaman Islam yangsebenarnya. Matakuliah ini memberikan wawasan kepada mahasiswa untuk melakukan kajian ilmu-ilmu keislaman dengan paradigma integratif-interkonektif dengan pendekatan triangle yang mencakup tiga entitas (hadlarah), yaitu: hadlarah al-nash, hadlarah al-ilm dan hadlarah al-falsafah.
c. Mengubah pemahaman dan penghayatan keislaman masyarakat muslim Indonesia secara khusus dan masyarakat agama pada umumnya. Yaitu bukan sekedar pemahaman formalisme lebih kepada substansi, dan pemahaman yang menimbulkan sikap eksklusif menuju sikap inklusif.
d. Mampu melahirkan komunitas yang mampu melakukan perbaikan baik intern umat Islam atau masyarakat pada umumnya.
e. Mampu melahirkan budaya tasamuh dalam realitas budaya dan pluralitas agama.
(Dari berbagai sumber di internet, buku dll)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar